Tanrimartiadinata's Blog











Tayangan Televisi Sebagai Media Pembelajaran

            Menyimak pidato kenegaraan Presiden SBY di MPR yang baru lalu, di hadapan anggota DPD, pada tahun 2010 internet dan tayangan televisi akan bisa dinikmati oleh masyarakat pedesaan di seluruh Indonesia, saya jadi terpana. Ada rasa bangga, namun kegundahan akan dampak negatif dari media tersebut jauh lebih besar. Internet, mungkin masih terbatas pada mereka yang faham teknologi ini. Tetapi televisi, tidak dibutuhkan pengetahuan tambahan untuk menyimaknya, cukup punya mata yang berfungsi plus pendengaran. Masalah piranti (pesawat televisinya) mudah saja, andai belum atau tidak punya sendiri, bisa numpang di rumah tetangga karena komunitas desa sangat kekeluargaan dan masih solid dengan system kekerabatannya.

            Bila anda berhasrat menjadi selebriti/artis sinetron, dewasa ini kira-kira syaratnya lebih mudah, namun perlu kemurahan dari Allah SWT karena menyangkut performance bawaan “janin”. Syarat pertama, anda yang wanita, harus cantik, berkulit mulus, berbody seksi, mau berdandan sesuai dengan tuntutan skenario. Untuk anda yang pria, harus ganteng, gagah, berbody macho dan bersedia berlagak sesuai tuntutan skenario. Kedua, anda bisa bicara dengan nada lantang, sanggup membentak-bentak, bisa bereksperisi bengis-jahat-licik, pria jadi wanita, wanita berlagak pria, (ekspresi sedih/tangis-menangis dan mata merah/sembab, bisa direkayasa dengan obat tetes mata, atau gas dari aroma kulit bawang merah!). Ketiga, jangan sekali-kali anda menolak keinginan sutradara dan produser sekalipun alur cerita atau penokohan anda secara psikologis tidak berwatak atau bertentangan dengan norma-norma. Keempat, anda bersedia mengikuti irama “kejar-tayang” pihak produser. Kelima, campakkan idealisme anda, gantikan dengan selera iklan dan warna-warni pemirsa yang menggemari ceritanya. Syarat keenam, sanggup menerima kritik, tudingan negatif dari para intelektual, psikolog dan pendidik yang peduli pada generasi muda. Ketujuh, -untuk pendatang baru dan yang belum beken- tanda-tangani saja kontrak dengan persyaratan yang diajukan produser walaupun honornya rendah.

            Menjelang bulan Suci Ramadhan, selama satu bulan penuh ada kemungkinan tayangan televisi dipenuhi dengan thema-thema religi, termasuk iklan yang mengundang sensasi akan dikurangi. Padahal dalam setahun selama sebelas bulan, pemirsa banyak disuguhi tampilan yang serba glamour serta menjurus pada hal-hal berdampak negatif bagi perkembangan psikologi anak-anak dan ABG. Dan masyarakat pedesaan pada umumnya menikmati siaran televisi bagaikan sebuah media pembelajaran. Sementara Komisi Penyiaran Indonesia dan institusi pengawasan siaran televisi dan film independen seakan tidak mampu berfungsi sebagai pengendali. Walaupun label “siaran dewasa”, “bimbingan orang tua” atau apa saja istilahnya, tercantum dalam acara-acara tertentu.

            Kampanye nasional untuk menyelamatkan anak-anak dari cengkeraman televisi adalah “Hari Tanpa Televisi” diadakan sejak 2006, tahun ini dilaksanakan pada hari Minggu, 26 Juli 2009 yang lalu. Gerakan ini seolah mencerminkan komitmen pemerintah untuk mengendalikan dan mengawasi sajian stasiun televisi. Seandainya, komitmen ini diikuti fungsi-fungsi pengawasan dari institusi bentukan pemerintah, yang tegas, tidak pandang bulu, tak segan-segan menjatuhkan sanksi kepada stasiun yang ternyata menyajikan tayangan tidak berkualitas, niscaya kampanye bisa efektif serta menuai hasil maksimal. Lihatlah, seberapa besar prosentase siaran dan acara dari berbagai stasiun televisi yang berbobot membangun SDM masa depan? Jangan pertanyakan tentang komitmen orang tua menyiasati kebutuhan primer anak akan televisi, karena masyarakat pedesaan umumnya terlalu awam, kecuali bagi pedesaan di pulau Jawa dan Bali, mungkin sedikit beda.

            Kebutuhan terhadap internet dan televisi konsekuensi logis dari perkembangan informasi global. Bahkan, suatu saat nanti masyarakat sangat bergantung pada teknologi ini sepadan dengan ketergantungan terhadap listrik. Oleh karena itu, sangat logis jika dalam dekade terakhir perkembangan industrialisasi pertelevisian nasional juga ikut meningkat, baik secara kuantitas maupun kualitas teknologinya. Bahkan, di era otonomi daerah, juga semakin marak bermunculan televisi lokal dengan tayangan khas bernuansa kedaerahan.

            Kuantitas sajian membingungkan pemirsa saking beraneka dan banyaknya acara, teknologi pembuatannya kian canggih sehingga mampu menghipnotis pemirsa awam, utamanya masyarakat pedesaan. Kita semua bangga dengan itu, walaupun sebagian program berupa adopsi dari televisi luar negeri. Kendati demikian, para intelektual, psikolog, pendidik dan pemerhati generasi penerus bangsa ini sangat memprihatinkan kualitas tayangannya dan dampak negatif jangka panjang terhadap perkembangan jiwa dan moral anak-anak dan remaja. Pesan-pesan edukatif yang disajikan terbungkus sangat tebal sulit dicernakan, sebaliknya perilaku bengis dan keji justru tertampil seakan suri tauladan yang faktual serta layak diaktulisasikan dalam keseharian. Utamanya sajian televisi swasta nasional yang lebih banyak memburu kualitas tayangan program yang kurang mendidik dan cenderung tidak rasional.

            Para psikolog tidak sedikit yang menegaskan bahwa hampir semua tayangan televisi cenderung tidak mendidik bagi anak-anak. Program “reality show” pun menyerempet pada mengajak masyarakat untuk menerima begitu saja fakta yang diungkapkan tokoh tamunya, bukan tidak mungkin bisa berdampak pada kebencian atau fitnah pada pihak yang tidak sepaham. Tayangan yang bertemakan religi, khususnya agama yang banyak dianut oleh masyarakat Indonesia, cenderung mengada-ada dengan alur cerita yang hilir mudik. Masyarakat pedesaan dan anak-anak menonton semua sajian karena kebanyakan mereka tidak punya batasan menonton yang jelas, hanya menuruti selera dan kesenggangan. Mulai dari acara gosip, berita kriminal yang sadistis, sinetron yang penuh kekerasan, intriks, mistis, amoral, film dewasa yang diputar dari pagi hingga malam, penampilan musik dengan artis berbusana seksi, lirik lagu yang tak mendidik, sinetron bertema agama menampilkan rekaan adegan yang bisa menjerumuskan pada syirik, sinkretisme yang merusak akidah dan keluar dari syariat agama. Sementara film-film kartun yang heroisme memberatkan adegan yang anti-sosial.

            Transparansi dan globalisasi teknologi informasi mempersempit ruang dan waktu. Internet, televisi dan piranti komunikatif merambah setiap komunitas sosial, memberikan kemudahan menjanjikan kesenangan. Pemerintah c.q. Depkominfo sudah mencoba untuk menangkal berbagai dampak negatif dari teknologi (internet) ini dengan menyediakan software khusus yang bisa didownload gratis melalui situs Depkominfo. Faktanya, banyak warnet yang tumbuh menjamur di seantero kota besar/kecil, tidak mempergunakan software aplikasi pelindung tersebut. Malah, ada server milik beberapa Pemkab/Pemkot terutama di Jatim, membuka koneksi wireless yang bisa diakses bebas oleh masyakarat dalam radius tertentu, tidak memasang filter sama sekali. Apalagi dengan siaran televisi yang nota bene dikendalikan oleh stasiunnya, dan hanya mengandalkan kebijaksanaan orang tua untuk memilih dan memilah acara layak tonton, serta “kritikan” komisi penyiaran.

            Bulan Suci Ramadhan telah hadir, sajian televisi tentunya bernuansa islami. Mudah-mudahan, tayangan yang bernuansa lebih pro-sosial dengan norma-norma dan nilai-nilai luhur terus berlanjut sepanjang waktu. Institusi pengawas siaran dan film, baik bentukan pemerintah maupun yang independen mampu memaksimalkan peranan dan fungsinya. Industriawan dan produsen acara menunjukkan komitmen yang bijak: Jangan sampai orang lain berbuat dosa karena kita. Hanya demi meraup keglamouran bagi diri sendiri dan keluarga.



{November 12, 2010}   Musik Tradisional Indonesia

MUSIK TRADISIONAL INDONESIA

NKRI adalah sebuah negara yang meliputi ribuan pulau yang terbentang dari Sabang hingga Merauke, dimana dari sekian banyaknya kepulauan beserta masyarakatnya tersebut lahir, tumbuh dan berkembang berbagai budaya daerah. Seni tradisional yang merupakan jati diri, identitas dan media ekspresi dari masyarakat pendukungnya.

Hampir seluruh wilayah NKRI mempunyai seni musik tradisional yang khusus dan khas. Dari keunikan tersebut bisa nampak terlihat dari teknik permainannya, penyajiannya maupun bentuk/organologi instrumen musiknya. Seni tradisonal itu sendiri mempunyai semangat kolektivitas yang tinggi, sehingga dapat dikenali karakter dan ciri khas masyarakat Indonesia, yaitu yang terkenal ramah dan santun.

Untuk lebih mengenal lebih dekat musik tradisional kita dapat dikategorikan menjadi beberapa kelompok yaitu :

1. Instrumen Musik Perkusi.

Perkusi adalah sebutan bagi semua instrumen musik yang teknik permainannya di pukul, baik menggunakan tangan maupun stik. Dalam hal ini beberapa instrumen musik yang tergolong dalam alat musik perkusi adalah Gamelan, Kendang, Kecapi, Arumba, Talempong, Sampek dan Kolintang, Rebana, Bedung, Jimbe dan lain sebagainya.

a. Gamelan adalah alat musik yang terbuat dari bahan logam, gamelan berasal dari daerah Jawa tengah, Yogyakarta, Jawa Timur juga di Jawa Barat disebut dengan Degung dan di Bali disebut Gamelan Bali. Satu perangkat gamelan terdiri dari instrumen saron, demung, gong, kenong, slentem, bonang, peking, gender dan beberapa instrumen lainnya. Disamping itu gamelan mempunyai nada pentatonis/pentatonic.

b. Kendang adalah sejenis alat musik perkusi yang membrannya berasal dari kulit hewan (kambing). Kendang atau gendang dapat dijumpai di banyak wilayah Indonesia. Di daerah Jawa Barat kendang mempunyai peranan penting dalam tarian Jaipong. Di Jawa Tengah, Yogyakarta, Jawa Timur dan Bali kendang selalu digunakan dalam permainan gamelan baik untuk mengiringi tarian, wayang dan ketoprak. Tifa adalah alat musik sejenis kendang yang dapat di jumpai di daerah Papua, Maluku dan Nias. Rebana adalah jenis alat musik yang biasa di gunakan dalam kesenian yang bernafaskan Islam. rebana dapat dijumpai hampir di sebagian wilayah Indonesia.

c. Kecapi adalah alat musik petik yang berasal dari daerh Jawa Barat. Bentuk organologi kecapi adalah sebuah kotak kayu yang diatasnya berjajar dawai/senar, kotak kayu tersebut berguna sebagai resonatornya. Alat musik yang menyerupai kecapi adalah siter dari Jawa Tengah.

d. Arumba (alunan rumpun bambu) berasal dari daereah Jawa Barat. Arumba adalah alat musik yang terbuat dari bahan bambu yang di mainkan dengan melodis dan ritmis. Pad awalnya arumba menggunakan tangga nada pentatonis namun dalam perkembangannya menggunakan tangga nada diatonis.

e. Talempong adalah seni musik tradisi dari Minangkabau. Talempong adalah alat musik bernada diatonis (do, re, mi, fa, sol, la, si, do).

f. Sampek (sampe/sapek) adlah alat musik yang bentuknya menyerupai gitar berasal dari daerah Kalimantan. Alat musik ini terbuat dari bahan kayu yang dipenuhi dengan ornamen/ukiran yang indah. Alat musik petik lainnya yang bentuknya menyerupai sampek adalah Hapetan dari daerah Tapanuli, Jungga dari Sulawesi Selatan.

g. Kolintang atau kulintang berasal dari daerah Minahasa. Alat musik ini mempunyai tangga nada diatonis yang semua instrumennya terdiri dari bas, melodis dan ritmis. Bahan dasar dibuat dari kayu dan cara untuk memainkan alat musik ini di pukul dengan menggunakan stik.

h. Sasando adalah alat musik petik berasal dari daerah Nusa Tenggara Timur, kecapi ini terbuat dari bambu dengan diberi dawai/senar sedangkan untuk resonasinya di buat dari anyaman daun lontar yang mempunyai bentuk setengah bulatan.

2. Instrumen Musik Gesek.

Instrumen musik tradisional yang menggunakan teknik permainan digesek adalah Rebab. Rebab berasal dari daerah Jawa Barat, Jawa Tengah, Jakarta (kesenian betawi). Rebab terbuat dari bahan kayu dan resonatornya ditutup dengan kulit tipis, mempunyai dua buah senar/dawai dan mempunyai tangga nada pentatonis. Instrumen musik tradisional lainnya yang mempunyai bentuk seperti rebab adalah Ohyan yang resonatornya terbuat dari tempurung kelapa. Rebab jenis ini dapat dijumpai di Bali, Jawa dan Kalimantan Selatan.

3. Instrumen Musik Tiup.

Suling adalah instrumen musik tiup yang terbuat dari bambu hampir semua daerah di Indonesia dapat dijumpai alat musik ini. Saluang adalah alat musik tiup dari Sumatera Barat, serunai dapat dijumpai di Sumatera Utara, Kalimantan. Suling Lembang berasal dari daerah Toraja yang mempunyai panjang antara 40 – 100 cm dengan garis tengah 2 cm.

Tarompet, serompet, selompret adalah jenis alat musik tiup yang mempunyai 4 – 6 lubang nada dan bagian untuk meniupnya berbentuk corong. Seni musik tradisional yang menggunakan alat musik seperti ini adalah kesenian rakyat Tapanuli, Jawa Barat, Jawa Timur, Madura dan Papua.



 

ARTIKEL – PUASA UNTUK KESEHATAN JASMANI, ROHANI, DAN SOSIAL

Marhaban Yaa Ramadhan

Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Allah swt. telah mewajibkannya kepada kaum yang beriman, sebagaimana telah diwajibkan atas kaum sebelum Muhammad saw. Puasa merupakan amal ibadah klasik yang telah diwajibkan atas setiap umat-umat terdahulu. bentuk puasa yang telah dilakukan oleh umat terdahulu, yaitu:
Puasa merupakan salah satu rukun Islam yang dilaksanakan oleh kaum muslimin di seluruh dunia. Allah swt. telah mewajibkannya kepada kaum yang beriman, sebagaimana telah diwajibkan atas kaum sebelum Muhammad saw. Puasa merupakan amal ibadah klasik yang telah diwajibkan atas setiap umat-umat terdahulu.

ada yang praktek puasa setiap hari dengan maksud menambah pahala. Ada juga Puasa bicara, yakni praktek puasa kaum Yahudi. Kemudian Puasa bertapa, seperti puasa yang dilakukan oleh pemeluk agama Budha dan sebagian Yahudi. Dan puasa kaum-kaum lainnya yang mempunyai cara dan kriteria yang telah ditentukan oleh masing-masing kaum tersebut.
Sedang kewajiban puasa dalam Islam, orang akan tahu bahwa ia mempunyai aturan yang tengah-tengah yang berbeda dari puasa kaum sebelumnya baik dalam tata cara dan waktu pelaksanaan. Tidak terlalu ketat sehingga memberatkan kaum muslimin, juga tidak terlalu longgar sehingga mengabaikan aspek kejiwaan. Hal mana telah menunjukkan keluwesan Islam.

Secara etimologi, puasa berarti menahan, baik menahan makan, minum, bicara dan perbuatan. Sedangkan secara terminologi, puasa adalah menahan dari hal-hal yang membatalkan puasa dengan disertai niat berpuasa. Sebagian ulama mendefinisikan, puasa adalah menahan nafsu dua anggota badan, perut dan alat kelamin sehari penuh, sejak terbitnya fajar kedua sampai terbenamnya matahari dengan memakai niat tertentu. Puasa Ramadhan wajib dilakukan, adakalanya karena telah melihat hitungan Sya’ban telah sempurna 30 hari penuh atau dengan melihat bulan pada malam tanggal 30 Sya’ban. Sesuai dengan hadits Nabi saw. “Berpuasalah dengan karena kamu telah melihat bulan (ru’yat), dan berbukalah dengan berdasar ru’yat pula. Jika bulan tertutup mendung, maka genapkanlah Sya’ban menjadi 30 hari.”

yang menjadi parameter antara sah atau rusaknya puasa seseorang.
Pertama, Nilai Formal yaitu yang berlaku dalam perspektif ini puasa hanya tinjau dari segi menahan lapar, haus dan birahi. Maka menurut nilai ini, seseorang telah dikatakan berpuasa apabila dia tidak makan, minum dan melakukan hubungan seksual mulai dari terbit fajar sampai terbenam matahari. Padahal Rasulullah SAW telah memberikan warning terhadap umat muslim melalui sebuah haditnya yang berbunyi :
“Banyak orang yang puasa mereka tidak mendapatkan apa-apa melainkan hanya rasa lapar dan haus saja”. H.R. bukhari.
Dari hadits tersebut kita dapat mengetahui bahwa hakekat atau esensi puasa tidak hanya menahan rasa lapar, haus dan gairah birahi saja, melainkan dalam puasa terkandung berbagai aturan, makna dan faedah yang mesti diikuti.
Kedua, Nilai Fungsional yaitu yang menjadi parameter sah atau rusaknya puasa seseorang ditinjau dari segi fungsinya. Adapun fungsinya yaitu untuk menjadikan manusia bertakwa (laa’lakum tattaqun). QS. Al-Baqarah 183
Kemudian menurut nilai ini, puasa seseorang sah dan tidak rusak apabila orang tesebut dapat mencapai kualitas ketakwaan terhadap Allah SWT.

Kadar takwa tersebut terefleksi dalam tingkah laku, yakni melaksanakan perintah dan menjauhi larangan. Al-Baqarah ayat 185 : “(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulan) al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang haq dan bathil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan tersebut, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu”. Ayat ini menjelaskan alasan yang melatarbelakangi mengapa puasa diwajibkan di bulan Ramadhan, tidak di bulan yang lain. Allah mengisyaratkan hikmah puasa bulan Ramadhan, yaitu karena Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan yang diistimewakan Allah dengan dengan menurunkan mukjizat terbesar di dalamnya, yaitu al-Qur’an al-Karim yang akan menunjukan manusia ke jalan yang lurus. Ramadhan juga merupakan pengobat hati, rahmat bagi orang-orang yang beriman, dan sebagai pembersih hati serta penenang jiwa-raga. Inilah nikmat terbesar dan teragung. Maka wajib bagi orang-orang yang mendapat petunjuk untuk bersyukur kepada Sang Pemberi Nikmat tiap pagi dan sore.

Pendekatan kesehatan, mengapa kita perlu berpuasa?
Bagi Kesehatan Fisik
Umat Islam tidak berpuasa karena alasan manfaat puasa bagi kesehatan. Padahal sejak lama, puasa dijadikan semacam terapi bagi mereka yang bermasalah dalam hal kelebihan berat badan. Dengan berpuasa, kerja alat-alat pencernaan diistirahatkan. Berpuasa mempunyai efek yang banyak berlawanan dibandingkan jika seseorang melakukan diet ketat untuk menurunkan berat badannya. pada saat-saat tertentu, perut memang harus diistirahatkan dari bekerja memproses makanan yang masuk sebagaimana juga mesin harus diistirahatkan, apalagi di dalam Islam, isi perut kita memang harus dibagi menjadi tiga, sepertiga untuk makanan, sepertiga untuk air dan sepertiga untuk udara.
puasanya umat Islam di bulan Ramadhan sangat berbeda dengan perencanaan diet. Puasa Ramadhan tidak mengurangi asupan gizi dan kalori, cuma kadarnya sedikit lebih rendah dari kebutuhan nutrisi yang normal. Selain itu, orang yang berpuasa di bulan Ramadhan, masih bisa menyantap setiap jenis makanan, sementara mereka yang berpuasa untuk diet, hanya boleh makan makanan tertentu. Faktor lainnya yang membuat puasa Ramadhan menyehatkan adalah, mereka yang berpuasa melakukannya dengan sukarela dan hati yang ikhlas, bukan karena resep atau anjuran dari dokter.

Ramadhan adalah bulan pengendalian dan pelatihan terhadap diri sendiri, dengan harapan pengendalian dan pelatihan ini akan terus berlanjut meski bulan Ramadhan sudah berakhir. Jika kebiasaan berpuasa dilanjutkan meski bukan pada bulan Ramadhan, apakah untuk keperluan diet atau ibadah, efeknya akan terasa dalam jangka panjang.

pada dasarnya orang yang berpuasa itu hanya melewatkan saat makan siang dan mempercepat waktu makan pagi. Orang yang berpuasa juga hanya tidak minum selama 8 sampai 10 jam dan itu tidak membahayakan kesehatan dan tidak menyebabkan dehidrasi yang buruk bagi tubuh manusia. Sebaliknya, dehidrasi ringan dan penyimpanan air dalam tubuh bisa meningkatkan kesempatan hidup.
Dampak positif lainnya bagi tubuh, puasa bisa menurunkan kadar gula darah, kolesterol dan mengendalikan tekanan darah. Itulah sebabnya, puasa sangat dianjurkan bagi perawatan mereka yang menderita penyakit diabetes, kegemukan dan darah tinggi.
Dalam kondisi tertentu, seorang pasien bahkan dibolehkan berpuasa, kecuali mereka yang menderita sakit diabetes yang sudah parah, jantung koroner dan batu ginjal.
Puasa dapat menjaga perut yang penuh disebabkan banyak makan adalah penyebab utama kepada bermacam-macam penyakit terutamanya kegendutan yang menyebabkan timbulnya sub penyakit lain. Maka puasalah satu-satunya cara yang dapat memelihara anggota badan daripada semua penyakit kerana melaluinya unsur-unsur racun di dalam makanan dapat dinetralkan setelah berpadu di antara satu sama lain. Sesungguhnya kesan lapar di dalam perubatan adalah lebih baik daripada penggunaan obat.

penyakit-penyakit seperti tekanan darah tinggi, pertambahan lemak dan peningkatan gula dalam darah amat mudah menyerang dan melemahkan kekuatan badan individu tersebut. Sesungguhnya tiada obat yang khusus bagi memulihkannya melainkan dengan berpuasa kerana dengan berpuasa terbentuklah suatu sistem yang baru dalam badan yang bertindak mematikan sel-sel lama untuk digantikan dengan sel-sel baru yang lebih baik dan bertenaga.
Ditinjau Dari sudut kesuburan seorang wanita, puasa juga merupakan satu cara yang dapat mengurangkan kesan hormon broloktin yang menyebabkan kemandulan. Kesimpulannya puasa dapat menyehatkan sistem tubuh dan dapat mencegah penyakit-penyakit seperti kencing manis dan kegendutan.

Bagi Kesehatan Psikis
Dari sisi psikis, orang yang berpuasa pada bulan Ramadhan cenderung merasa tenang dan damai. Setiap orang berusaha untuk menahan amarahnya dan tingkat kejahatan pada bulan Ramadhan biasanya menurun. Umat Islam senantiasa mengingat nasehat Nabi Muhammad SAW yang mengatakan, “Jika sesesorang menghujatmu atau menyulut emosimu, katakanlah bahwa saya sedang berpuasa.”
Meningkatnya kualitas psikis inilah yang berkaitan dengan stabilitas gula darah yang lebih baik selama bulan Ramadhan, yang berpengaruh pada perubahan tingkah laku. Begitu juga dengan kebiasaan sholat malam. Sholat bukan hanya bermanfaat bagi penyerapan makanan, tapi juga untuk melepaskan energi. Setiap sholat dengan gerakan-gerakannya yang ringan seseorang melepaskan 10 ekstra kalori. Dengan kombinasi itu, sholat menjadi semacam olahraga yang cukup baik selama Ramadhan. Sama halnya dengan kebiasaan membaca Al-Qur’an, bukan hanya membuat hati dan pikiran tenang, tapi juga bisa menjaga hapalan Al-Qur’an.
Puasa adalah bentuk peribadahan khusus, hubungannya hanya antara Allah SWT dan orang yang bersangkutan. Karena tidak satupun yang selain, Allah dan orang itu sendiri yang tahu apakah ia benar-benar berpuasa.

Bagi Kesehatan Sosial
Mengingat dan Merasakan Penderitaan Orang Lain Merasakan lapar dan haus juga memberikan pengalaman kepada kita bagaimana beratnya penderitaan yang dirasakan orang lain. Sebab pengalaman lapar dan haus yang kita rasakan akan segera berakhir hanya dengan beberapa jam, sementara penderitaan orang lain entah kapan akan berakhir. Dari sini, semestinya puasa akan menumbuhkan dan memantapkan rasa solidaritas kita kepada kaum muslimin lainnya yang mengalami penderitaan yang hingga kini masih belum teratasi, seperti penderitaan saudara-saudara kita di Ambon atau Maluku, Aceh dan di berbagai wilayah lain di Tanah Air serta yang terjadi di berbagai belahan dunia lainnya seperti di Iran, Irak, Palestina dan sebagainya.Puasa sebagai tradisi agama-agama yang memiliki makna universal harus dijadikan energi positif bagi menguatnya pemahaman multikultural yang disemangati oleh nilai-nilai ketuhanan (rabbaniyah) dan kemanusiaan (insaniyah).
Oleh karena itu, sebagai simbol dari rasa solidaritas itu, sebelum Ramadhan berakhir, kita diwajibkan untuk menunaikan zakat agar dengan demikian setahap demi setahap kita bisa mengatasi persoalan-persoalan umat yang menderita. Bahkan zakat itu tidak hanya bagi kepentingan orang yang miskin dan menderita, tapi juga bagi kita yang mengeluarkannya agar dengan demikian, hilang kekotoran jiwa kita yang berkaitan dengan harta seperti gila harta, kikir dan sebagainya.



{October 29, 2010}   Hello world!

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!



et cetera